JELAJAH

Minggu, 19 Januari 2020

REVIEW AUTUMN IN PARIS

IDENTITAS BUKU

  • Judul Buku           : Autumn in Paris
  • Penulis                 : Ilana Tan
  • Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman  : 121 hlm
  • Tahun Terbit        : 2007
  • Nomor Edisi Terbit : ISBN 979-22-3030-0

ULASAN

Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang tiga tempat yang saya sukai dari novel Autum in Paris.


Puncak Arc de Triomphe
Menurut Tara, puncak Arc de Triomphe adalah puncak yang sangat indah. Bukan hanya bagi Tara, Sebastien pun sangat menyukai puncak Arc de Triomphe. Dan kini, Tina mulai menyukai puncak Arc de Triomphe. Tara dan Sebastien suka sekali ke tempat itu, karena puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik. Walau kebanyakan orang lebih menyukai puncak menara Eiffel.
Sekilas puncak Arc de Triomphe sama halnya dengan puncak-puncak lainnya. Tetapi tidak bagi Tara. Puncak Arc de Triomphe  menyajikan pemadangan kota Paris yang indah. Terlebih lagi saat malam hari. Di puncak Arc de Triomphe yang tinggi, kita akan merasakan kedamaian. Puncaknya yang berada jauh dari peradaban memberikan sensasi yang berbeda. Ketika Tara ataupun Sebastien mulai stres atau penat dengan segala masalah dalam kehidupan, puncak Arc de Triomphe adalah tempat pelarian bagi mereka. Tidak hanya itu, puncak Arc de Triomphe telah menjadi saksi bisu banyaknya kisah yang terjadi dalam hidup Tara. Dia dan Tatsuyapun memiliki kisah di puncak Arc de Triomphe.
Andai saja aku berada di negara itu. Andai saja aku berada di kota itu. Andai saja aku tinggal di dekat puncak itu. Atau... Andai saja puncak itu ada di daerah tempat tinggalku. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, seperti yang Tara lakukan. Pergi ke puncak Arc de Triomphe untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tempat seperti itu adalah tempat yang tepat untuk menjauh dari semua problematika kehidupan, walau hanya sesaat. Setidaknya aku bisa sedikit merasakan kelegaan dalam hatiku dengan meninkmati keindahan kota dari tempat yang sangat tinggi.
Membayangkan diri ini berada di puncak Arc de Triomphe. Seakan berada di atas awan. Merasakan setiap hembusan angin, yang seakan membelai jiwa ini. Membawa ku terbang, berangan-angan agar semua masalah hidup tidak pernah ada. Ketika mulai membuka mata, aku akan melihat keindahan kota Paris. Kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kota pada malam hari, turut menenangkan hati. Tetapi dibalik sejuta keindahan puncak Arc de Triomphe, tempat ini juga memberitahukan satu hal penting padaku. Keindahan puncak Arc de Triomphe tidak akan pernah menyembunyikan kenyataan.
Ketika kita berada di puncak yang tinggi, tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan kembali turun. Namun, pilihan cara untuk turun ada pada tangan kita. Terjun bebas terjatuh dari puncak, atau turun melalui setiap jalan yang kita tempuh saat kita naik ke puncak.

Kelab La Vue
Kelab La Vue, siapa yang tidak tertarik dengan kelab ini? Kelab La Vue yang merupakan kelab mewah di kota Paris. Sebenarnya ada beberapa tempat yang menarik, seperti kafe-kafe yang menjadi saksi bisu berbagai kisah dalam “Autumn in Paris”. Namun, La Vue hadir dengan menyajikan kisah yang istimewa dan tak terlupakan.
Aku menyukai La Vue karena kelab ini adalah kelab yang kembali mempertemukan Tatsuya dengan Tara. Pertemuan kembali pada hari yang sama. Bayangkan saja, ketika kita berjumpa dengan seseorang, dan kita jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu kita berjumpa kembali dengan seseorang itu pada hari itu pula di sebuah kelub. Bukan hanya berjumpa kembali, tetapi berada di dekatnya, melihat wajahnya dari dekat, dan berbicara dengannya. Aku yakin bahwa kita akan sangat bahagia dan mengenang kelab itu walau seseorang itu tidak menyadarinya, karena sedang mabuk.
Kedua, hari ulang tahun Elise yang dirayakan di Klub La Vue, milik ayah Tara, telah menyajikan beberapa kisah, yaitu Tara yang merasakan cemburu karena Juliette yang terlihat dekat dengan Tatsuya dan kenyataan bahwa Tatsuya dengan orang yang sangat dia cintai, Tara, adalah saudara satu ayah. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan. Aku membayangkan jika diriku adalah Tatsuya. Mungkin saat itu aku akan memilih untuk tidak hadir di La Vue saat pesta ulang tahun Elise.
Ketiga, kelab La Vue merupakan tempat favorit Tara, selain puncak Arc de Triomphe. Bagaimana tidak? Setiap kali Tara merasakan stres atau depresi, dia selalu pergi ke tempat itu. Meneguk begitu banyak minuman demi membalaskan rasa kesal di hatinya, hingga dia kehilangan kesadaran.
Keempat, La Vue menjadi istimewa karena adanya sosok Hugo, maksudku Edouard. Dia selalu mengingatkan Tara saat Tara sudah mulai mabuk. Ya, bartender botak itu juga telah mengambil perhatianku. Rasanya La Vue tidak akan lengkap tanpa Edouard yang ramah itu.
Jika aku menjadi Tara, mungkin aku juga akan sering sekali ke kelab La Vue. Karena kelab itu adalah milik ayahku sendiri. Tidak perlu pusing-pusing untuk sekedar nongkrong. Jika ingin mengadakan pestapun bisa diadakan di La Vue.
           
Kamar Apartemen Tatsuya di Tokyo
Hanya sesaat, namun kisah sesaat di kamar apartemen Tatsuya telah membangkitkan sejuta gejolak jiwa. Ya, memang hanya sedikit bagian dari “Autum in Paris” yang mengambil lokasi ini sebagai latar tempatnya. Namun, tempat itu turut menarik perhatianku. Hatiku terenyuh ketika aku membaca kisah-kisah yang terjadi di kamar apartemen Tatsuya yang berada di Tokyo. Seakan aku adalah Tara yang masuk ke dalam kamar apartemen dengan penuh kerinduan dan merasakan kehadiran Tatsuya di kamar itu.
Kamar apartement Tatsuya benar-benar menggambarkan siapa Tatsuya. Di kamar itu, terdapat banyak buku arsitektur. Tentu saja buku arsitektur, bukankah Tatsuya bekerja pada sebuah proyek? Di kamar itu juga terdapat  tulisan tangan Tatsuya yang menggunakan huruf kanji. Tara juga menemukan jaket coklat yang sering digunakan Tatsuya saat di Paris. Rasanya, setiap bagian di kamar itu adalah Tatsuya. Dan apapun yang Tara lihat atau sentuh, selalu mengingatkan dia akan Tatsuya. Akupun merasakan hal itu.
Kamar itu memberitahukan banyak kenyataan yang Tara tidak pernah tahu. Salah satunya adalah tentang kelima foto yang Tara tak pernah menyadari kapan Tatsuya memotretnya. Dan kisah tentang beberapa email antara Tatsuya dan Bastien. Selama satu bulan Tatsuya tidak pernah menghubungi Tara dan menanyakan kabarnya secara langsung. Tetapi Tatsuya selalu menanyakan kabar Tara melalui email kepada Bastien. Seandainya Tara tidak masuk ke kamar itu, mugkin Tara tidak akan pernah tahu kenyataan yang terjadi selama satu bulan terakhir. Kenyataan bahwa Tatsuya masih memperhatikan dia, walau dengan jarak yang jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW KAPAN JADIAN?

Judul                            : Kapan Jadian? Penulis                          : Almaidah Swan Jumlah Halaman           : 276 hlm N...