Asistensi itu ada karena
melihat adanya kebutuhan. Yosefa Sayekti, ketua panitia pendaftaran asisten
dosen (asdos) akuntansi, merasa ketika pendadaran banyak mahasiswa yang tidak
memahami betul apa yang sudah diajarkan selama perkuliahan. "Kita maunya
mahasiswa itu sudah kuat dasarnya dari awal dengan latihan-latihan yang cukup
di kelas." ujarnya, ketika ditemui di ruang Jurusan Akuntansi (15/11).
Melihat adanya kebutuhan akan asistensi
dan tersediaanya dana berupa Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negri (BOPTN),
maka pihak Jurusan Akuntansi membuka pendaftaran menjadi asisten dosen (asdos)
yang dibantu oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA).
Asdos bukanlah asisten yang dimiliki
oleh dosen secara pribadi. Asdos merupakan asisten dalam membantu suatu mata
kuliah tertentu. Dibutuhkan persyaratan khusus untuk menjadi seorang asdos.
Denok Puji Astuti, selaku pengurus HMJA sekaligus asdos mata kuliah Akuntansi Keuangan
Menengah 2, menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang asdos harus memiliki IPK
minimal 3,5. Atau IPK boleh 3,00 asalkan pernah mengikuti kompetisi akuntansi. Yosefa
pun memberikan penjelasan serupa bahwa untuk menjadi asdos ada semacam audisi.
Terdapat dua tahap yang harus ditempuh. Tahap pertama, yaitu tahap
administrasi. Maksudnya adalah mahasiswa yang akan mendaftar harus memiliki IPK
minimal yang telah ditentukan dan mendapatkan nilai A untuk mata kuliah yang
diasdosi. Misalnya saja jika ingin menjadi asdos dari mata kuliah Pengantar Akuntansi,
maka nilai pengantar Akuntansinya harus A. Selain itu juga pernah mengikuti
kegiatan-kegiatan Akuntansi. Tahap kedua adalah tahap praktik. Calon asdos
harus mempraktikan bagaimana dia mengajar di kelas dan disaksikan oleh dosen.
Yosefa menegaskan bahwa asdos itu bukanlah
sebagai sekat pemisah antara mahasiswa dengan dosen. Mengapa bukan? Karena
dosen tetap mengajar sebagaimana mestinya. Dan apabila dosen yang bersangkutan
tidak dapat menghadiri perkuliahan, maka asdos tidak berhak menggantikannya.
Sedangkan pelaksanaan asistensi sendiri dilakukan diluar jam perkuliahan yang
telah dijadwalkan. Meskipun diluar jadwal perkuliahan, akan tetapi kegiatan
asistensi tetap menggunakan ruang kelas di area kampus.
Itu artinya akan ada pertemuan ganda
yang dijalani oleh mahasiswa dalam setiap mata kuliah, yaitu tatap muka dengan
dosen dalam perkuliahan biasanya dan tatap muka dengan asdos dalam asistensi.
Selain itu, akan ada kemungkinan terjadi perebutan ruang kelas antara kegiatan
perkuliahan dengan kegiatan asistensi.
Yosefa menyatakan bahwa walaupun
menggunakan ruang kelas, akan tetapi hingga saat ini belum ada keluhan yang
berhubungan dengan kegiatan asistensi. Dan kegiatan asistensi selalu
mendapatkan ruang kelas. Salah satu mahasiswi Akuntansi angkatan 2013 yang
tidak ingin disebut namanya mengutarakan hal serupa. “Kalau kelas, sampai saat
ini selalu dapat kelas.”
Namun, kendala yang terjadi terletak
pada terbenturnya jadwal, antara jadwal kuliah dengan jadwal asistensi.
"Kendalanya itu jadwal temen-temen
enggak sama, jadi ada yang keluar ditengah jam asistensi karena ada jam
kuliah." tambah mahasiswi Akuntansi 2013.
Tugas utama dari seorang asdos adalah
untuk memberikan latihan-latihan di kelas. Namun selain itu, asdos juga
bertugas memberikan penilaian terhadap kelas tersebut. "Saya belum ngomong sama dosennya. Ada kemarin yang
sudah ngomong sama dosennya. Mata kuliah Audit 2 yang diajar Pak Wasito, asdos
berhak 10% atas nilai mahasiswa. Sedangkan yang 90% tetap merupakan kewenangan
dosen." ujar Denok. Presentase penilaian yang diberikan oleh asdos tidak
sama untuk semua mata kuliah. Hal ini tergantung pada kontrak antara dosen mata
kuliah dengan asdos yang bersangkutan.
Kesibukan asdos dalam memberikan
asistensi tidak hanya mendapatkan imbalan berupa ucapan terima kasih. Menjadi
seorang asdos tentunya akan mendapatkan konpensasi. Yosefa mengiyakan kepastian
adanya konpensasi tersebut, tetapi dia belum bisa menyebutkan berapa besarnya
nominal yang akan diberikan untuk konpensasi tersebut. Namun, yang pasti jumlah
konpensasi untuk setiap asdos adalah sama. Kemungkinan perbedaannya hanya
terletak pada SKS yang dipegang oleh masing-masing asdos. Konpensasi untuk
asdos mata kuliah 4 SKS akan sedikit lebih banyak daripada konpensasi untuk
asdos mata kuliah 3 SKS. Konpensasi tersebut akan diberikan setiap bulan.
Menurut Denok, imbalan yang diberikan
tidak bisa dibilang konpensasi karena nilainya sedikit sekali. Dan juga tidak
bisa disebut sebagai uang lelah, karena lelahnya lebih besar daripada uangnya.
Denok berpendapat bahwa dirinya menjadi asdos hanyalah untuk amal, dengan
niatan membantu teman agar memahami mata kuliah yang ditempuh.
"Kalau menurutku asdos itu berguna
juga, buat lebih memahami materi dan bagaimana nyelesaikan jenis-jenis soal,
karena di dalam kelas asdos (asistensi) kita latihan dan membahas soal
bersama-sama, dikasih bimbingan lagi, sharing-sharing
tentang apa yang enggak bisa, trus entar diajarin. Dengan asdoskan lebih
santai jadi enggak malu buat
tanya-tanya." pernyataan mahasiswi Akuntansi 2013.
"Kalau aku pribadi sih lebih
enakan kelas biasa sama dosen, kalau asdos cuma buat penunjang aja biar lebih
paham." tambahnya.
Hal tersebut nampaknya sejalan dengan
harapan yang diutarakan Yosefa. "Tujuannya sih untuk membantu mahasiswa
lebih memahami materi perkuliahan." Selain itu, Yosefa juga mengutarkan
bahwa dengan menjadi asdos, para asdos menjadi punya pengalaman mengajar di
kelas.
Jember, November 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar