JELAJAH

Rabu, 17 Desember 2014

DAMPAK ADANYA ASDOS BAGI PRIBADI ASDOS & MAHASISWA BIASA

Asistensi itu ada karena melihat adanya kebutuhan. Yosefa Sayekti, ketua panitia pendaftaran asisten dosen (asdos) akuntansi, merasa ketika pendadaran banyak mahasiswa yang tidak memahami betul apa yang sudah diajarkan selama perkuliahan. "Kita maunya mahasiswa itu sudah kuat dasarnya dari awal dengan latihan-latihan yang cukup di kelas." ujarnya, ketika ditemui di ruang Jurusan Akuntansi (15/11).
Melihat adanya kebutuhan akan asistensi dan tersediaanya dana berupa Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negri (BOPTN), maka pihak Jurusan Akuntansi membuka pendaftaran menjadi asisten dosen (asdos) yang dibantu oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA).
Asdos bukanlah asisten yang dimiliki oleh dosen secara pribadi. Asdos merupakan asisten dalam membantu suatu mata kuliah tertentu. Dibutuhkan persyaratan khusus untuk menjadi seorang asdos. Denok Puji Astuti, selaku pengurus HMJA sekaligus asdos mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 2, menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang asdos harus memiliki IPK minimal 3,5. Atau IPK boleh 3,00 asalkan pernah mengikuti kompetisi akuntansi. Yosefa pun memberikan penjelasan serupa bahwa untuk menjadi asdos ada semacam audisi. Terdapat dua tahap yang harus ditempuh. Tahap pertama, yaitu tahap administrasi. Maksudnya adalah mahasiswa yang akan mendaftar harus memiliki IPK minimal yang telah ditentukan dan mendapatkan nilai A untuk mata kuliah yang diasdosi. Misalnya saja jika ingin menjadi asdos dari mata kuliah Pengantar Akuntansi, maka nilai pengantar Akuntansinya harus A. Selain itu juga pernah mengikuti kegiatan-kegiatan Akuntansi. Tahap kedua adalah tahap praktik. Calon asdos harus mempraktikan bagaimana dia mengajar di kelas dan disaksikan oleh dosen.
Yosefa menegaskan bahwa asdos itu bukanlah sebagai sekat pemisah antara mahasiswa dengan dosen. Mengapa bukan? Karena dosen tetap mengajar sebagaimana mestinya. Dan apabila dosen yang bersangkutan tidak dapat menghadiri perkuliahan, maka asdos tidak berhak menggantikannya. Sedangkan pelaksanaan asistensi sendiri dilakukan diluar jam perkuliahan yang telah dijadwalkan. Meskipun diluar jadwal perkuliahan, akan tetapi kegiatan asistensi tetap menggunakan ruang kelas di area kampus.
Itu artinya akan ada pertemuan ganda yang dijalani oleh mahasiswa dalam setiap mata kuliah, yaitu tatap muka dengan dosen dalam perkuliahan biasanya dan tatap muka dengan asdos dalam asistensi. Selain itu, akan ada kemungkinan terjadi perebutan ruang kelas antara kegiatan perkuliahan dengan kegiatan asistensi.
Yosefa menyatakan bahwa walaupun menggunakan ruang kelas, akan tetapi hingga saat ini belum ada keluhan yang berhubungan dengan kegiatan asistensi. Dan kegiatan asistensi selalu mendapatkan ruang kelas. Salah satu mahasiswi Akuntansi angkatan 2013 yang tidak ingin disebut namanya mengutarakan hal serupa. “Kalau kelas, sampai saat ini selalu dapat kelas.”
Namun, kendala yang terjadi terletak pada terbenturnya jadwal, antara jadwal kuliah dengan jadwal asistensi. "Kendalanya itu jadwal temen-temen enggak sama, jadi ada yang keluar ditengah jam asistensi karena ada jam kuliah." tambah mahasiswi Akuntansi 2013.
Tugas utama dari seorang asdos adalah untuk memberikan latihan-latihan di kelas. Namun selain itu, asdos juga bertugas memberikan penilaian terhadap kelas tersebut. "Saya belum ngomong sama dosennya. Ada kemarin yang sudah ngomong sama dosennya. Mata kuliah Audit 2 yang diajar Pak Wasito, asdos berhak 10% atas nilai mahasiswa. Sedangkan yang 90% tetap merupakan kewenangan dosen." ujar Denok. Presentase penilaian yang diberikan oleh asdos tidak sama untuk semua mata kuliah. Hal ini tergantung pada kontrak antara dosen mata kuliah dengan asdos yang bersangkutan.
Kesibukan asdos dalam memberikan asistensi tidak hanya mendapatkan imbalan berupa ucapan terima kasih. Menjadi seorang asdos tentunya akan mendapatkan konpensasi. Yosefa mengiyakan kepastian adanya konpensasi tersebut, tetapi dia belum bisa menyebutkan berapa besarnya nominal yang akan diberikan untuk konpensasi tersebut. Namun, yang pasti jumlah konpensasi untuk setiap asdos adalah sama. Kemungkinan perbedaannya hanya terletak pada SKS yang dipegang oleh masing-masing asdos. Konpensasi untuk asdos mata kuliah 4 SKS akan sedikit lebih banyak daripada konpensasi untuk asdos mata kuliah 3 SKS. Konpensasi tersebut akan diberikan setiap bulan.
Menurut Denok, imbalan yang diberikan tidak bisa dibilang konpensasi karena nilainya sedikit sekali. Dan juga tidak bisa disebut sebagai uang lelah, karena lelahnya lebih besar daripada uangnya. Denok berpendapat bahwa dirinya menjadi asdos hanyalah untuk amal, dengan niatan membantu teman agar memahami mata kuliah yang ditempuh.
"Kalau menurutku asdos itu berguna juga, buat lebih memahami materi dan bagaimana nyelesaikan jenis-jenis soal, karena di dalam kelas asdos (asistensi) kita latihan dan membahas soal bersama-sama, dikasih bimbingan lagi, sharing-sharing tentang apa yang enggak bisa, trus entar diajarin. Dengan asdoskan lebih santai jadi enggak malu buat tanya-tanya." pernyataan mahasiswi Akuntansi 2013.
"Kalau aku pribadi sih lebih enakan kelas biasa sama dosen, kalau asdos cuma buat penunjang aja biar lebih paham." tambahnya.
Hal tersebut nampaknya sejalan dengan harapan yang diutarakan Yosefa. "Tujuannya sih untuk membantu mahasiswa lebih memahami materi perkuliahan." Selain itu, Yosefa juga mengutarkan bahwa dengan menjadi asdos, para asdos menjadi punya pengalaman mengajar di kelas.

Jember, November 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW KAPAN JADIAN?

Judul                            : Kapan Jadian? Penulis                          : Almaidah Swan Jumlah Halaman           : 276 hlm N...